Wow… Museum Fatahillah Merah Seketika

Sabtu, 13 Maret 2010 | 21:52 WIB

ICHA RASTIK

Pemutaran Video Mapping 3D di Taman Fatahillah Jakarta

 
JAKARTA, KOMPAS.com — Pertunjukan video mapping 3D di Taman Fatahillah, Sabtu (13/3/2010) malam, menarik perhatian ribuan penonton yang penasaran dengan pertunjukan yang baru pertama kali digelar di Indonesia itu. Berdasarkan pantauan Kompas.com, penonton berseru, “Woaa….” setelah gedung Museum Fatahillah tiba-tiba berubah warna menjadi merah, ungu, kemudian oranye, hijau, dan berganti motif setiap beberapa menit.

Pertunjukan selama 10 menit itu memperlihatkan transformasi gedung museum menjadi hutan, arena bermain, bermotif batik, panggung tarian dengan teknologi tinggi yang menggabungkan gambar bergerak, fotografi, dan grafis komputer.

Seorang pengunjung, Berry (26), mengaku kagum dan terkejut menonton pertunjukan itu. “Bagus banget, ini pertama kali di Fatahillah. Karena saya asli sini, jadi saya tahu ada pertunjukan apa aja di sini. Ini pertama kali. Kaget aja,” katanya.

Pertunjukan bersejarah tersebut merupakan hasil kreativitas seniman Indonesia dan Inggris. Salah satu pembuatnya, Sakti Parantean, mengaku membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Biaya untuk pembuatannya pun cukup mahal.

Menurut Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, Aurora Tambunan, Pemerintah Daerah DKI Jakarta bekerja sama dengan British Council mengeluarkan sejumlah dana yang cukup banyak. Pertunjukan video mapping 3D merupakan upaya untuk menggerakkan masyarakat agar berpartisipasi dalam menciptakan Kota Tua sebagai kawasan industri kreatif.

source: http://megapolitan.kompas.com/read/2010/03/13/21524982/Wow….Museum.Fatahillah.Merah.Seketika.

Published in: on March 17, 2010 at 10:13 am  Leave a Comment  

20 Foto “Seni di Kotamu” Dipamerkan di Fatahillah

Sabtu, 13 Maret 2010 | 21:45 WIB

ICHA RASTIKA

Warga yang Menanti Pertunjukkan Video Mapping 3D di Taman Fatahillah Dimulai

 
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 20 foto finalis kompetisi foto “Seni di Kotamu” dipamerkan dalam bentuk proyeksi yang disorotkan ke dinding Museum Fatahillah Jakarta, Sabtu (13/3/2010) malam. Foto-foto tersebut merupakan foto terpilih dari 360 foto yang dilombakan.

Kompetisi foto yang digelar oleh British Council bekerja sama dengan Kompas.com tersebut melombakan foto-foto yang menceritakan bagaimana menjadikan ruang publik sebagai wadah kegiatan kreatif. Kompetisi tersebut akan menghasilkan 3 juara yang dipilih oleh juri dan 1 pemenang favorit berdasarkan hasil pengumpulan suara melalui Facebook.

Pemenang pertama akan mendapatkan sebuah kamera digital SLR Canon EOS 500D. Pemenang kedua mendapatkan sebuah Nokia E71. Adapun pemenang ketiga akan mendapatkan sebuah Blackberry Gemini. Sementara itu, juara favorit akan mendapatkan sebuah LG Digital Frame. Nama-nama pemenang tersebut akan diumumkan di puncak acara Kota Kreatif Jakarta Punya yang digelar di Taman Fatahillah, Jakarta, malam ini.

Published in: on March 17, 2010 at 10:12 am  Leave a Comment  

Nonton “Video Mapping” 3D di Fatahillah Yuk!

Sabtu, 13 Maret 2010 | 21:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ribuan orang warga Jakarta berkumpul di Taman Fatahillah Jakarta, Sabtu (13/3/2010), untuk menyaksikan pemutaran video mapping 3D yang pertama kali diputar di Indonesia. Pantauan Kompas.com, area Taman Fatahillah mulai dipenuhi pengunjung setelah marching band dari Bank Mandiri tampil sebagai pembuka serangkaian acara Kota Kreatif Jakarta Punya.

Para pengunjung berteriak, “Duduk! duduk!” agar semua pengunjung yang hadir tidak berdiri menyaksikan pertunjukan yang digelar di depan Museum Fatahillah tersebut.

Setelah marching band, pengunjung dihibur alunan musik dari band-band muda Jakarta sebelum pemutaran video mapping 3D dimulai. Pertunjukkan video mapping 3D merupakan hasil kreativitas seniman Indonesia dan Inggris yang menggambarkan tranformasi Kota Tua dengan merobohkan Museum Fatahillah secara visual.

Gambar bergerak, fotografi, dan grafis komputer digabungkan dengan perangkat canggih lalu disorot ke gedung museum untuk menghasilkan pertunjukan transformasi kota tersebut yang disebut video mapping 3D itu. Pertunjukan video mapping 3D merupakan kerja sama British Council dan Pemda DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo akan hadir menyaksikan pertunjukan kreativitas tersebut.

source: http://megapolitan.kompas.com/read/2010/03/13/21403129/Nonton.Video.Mapping.3D.di.Fatahillah.Yuk

Published in: on March 17, 2010 at 10:06 am  Leave a Comment  

Jakarta Kota Kreatif Segera Dicanangkan

Salah satu contoh ruang publik yang bisa jadi ruang kreatif.
Kamis, 11 Maret 2010 | 09:47 WIB

KOMPAS.com — Akhir pekan ini, Sabtu (13/3/2010), Gubernur DKI Jakarta bersama Kadin Jakarta dan British Council akan mencanangkan Jakarta Kota Kreatif di Kota Tua. Pencanangan itu akan ditandai dengan pertunjukan spektakuler “Video Mapping” yang baru pertama kali digelar di Indonesia. Penampilan seni proyeksi tiga dimensi menggunakan peralatan canggih itu juga dimaksudkan untuk memberi makna baru pada ruang, layar, dan juga panggung.

Intinya, menyadarkan khalayak bahwa menjadi kreatif itu penting dan menampilkan hasil karya itu tak harus di panggung konvensional yang selama ini kita kenal.

Industri kreatif sedang digalakkan oleh Kementerian Perdagangan Indonesia dengan Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Upaya ini direncanakan untuk mendapatkan kontribusi perekonomian yang signikan. Ekonomi kreatif mencakup berbagai industri kreatif. Industri kreatif adalah industri dengan kekuatan pada kreativitas, keahlian, dan talenta yang punya potensi mengembangkan kesejahteraan dan menciptakan lapangan kerja yang mengeksploitasi daya cipta.

Terminologi cultural industry atau industri budaya mengacu pada industri yang mengombinasikan kreasi, produksi, dan komersialisasi dari konten kreatif yang intangible (tak benda). Kontennya, menurut United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisations (UNESCO), dilindungi oleh copyright. Yang termasuk dalam industri budaya, antara lain multimedia, percetakan, audiovisual, dan sinematografi, beserta kerajinan dan desain.

Sementara itu, terminologi industri kreatif di dalamnya termasuk industri kreatif ditambah semua produksi artistik dan budaya. Industri kreatif juga memasukkan arsitektur dan periklanan sebagai aktivitas kreatif.

Menurut Project Manager Programme Team British Council Yudhi Soerjoatmodjo, program ruang kreatif membuka wawasan warga Jakarta tentang ruang kreatif dan memperluas pemahaman terhadap apa yang disebut panggung, kanvas, atau layer. “Intinya, media untuk berkreasi ada di sana (Kota Tua). Gedung-gedung tua di sana bisa jadi memikat jika saja pekerja kreatif bisa melihat panggung dan layar secara lebih luas.”

Selain bangunan tua, lanjutnya, Taman Fatahillah serta seluruh kawasan hingga ke Kalibesar bahkan Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Menara Syahbandar, bahkan Kampung Marunda bisa jadi ruang kreatif. Menampilkan sebuah pementasan tak selalu harus di dalam gedung karena panggung tersedia di mana-mana, demikian pula dengan kanvas dan layar.

Sejak 7 Maret hingga 13 Maret, puncaknya, British Council sudah menggelar rangkaian acara yang dibuka dengan acara Jelajah Lima Museum di Kota Tua bekerja sama dengan Komunitas Jelajah Budaya. Kemudian pada 13 Maret, sejak pagi Kota Tua sudah diisi dengan workshop tentang ruang kreatif, mendatangkan pakar dari Inggris yang sudah berpengalaman menghidupkan kota tua mereka yang sempat terbengkalai.

Contoh sukses

Liverpool, Inggris, setelah Perang Dunia II dihadapkan pada tugas membenahi perumahan warga yang hancur kena bom. Lebih luas, membenahi kota yang sudah sejak tahun 1920-an morat-marit. Tahun 1950-an dan 1960-an kota ini gencar membangun kembali pusat kota mereka dan perumahan warga dalam bentuk flat. Sebuah perubahan dari rumah di darat dengan teras menjadi rumah di gedung bertingkat.

Kota kelahiran band rock legendaris The Beatles ini kemudian juga mengubah batas wilayahnya pada 1974 sehingga kemudian masuk dalam kawasan administratif Merseyside. Industri di Liverpool mengalami perkembangan dahsyat di antara tahun 1950-an dan 1960-an, namun kemudian berubah di penghujung 1970 hingga 1980-an akibat resesi ekonomi. Alhasil, kota ini jadi kota pengangguran dengan tingkat masalah sosial yang tinggi. Buntutnya adalah kerusuhan di tahun 1981.

Waktu berlalu dan otoritas setempat juga tak diam melihat kehancuran kota tersebut. Menjelang berakhirnya abad 20, harapan mulai tumbuh. Industri gula, tepung, dan semen menjadi industri yang mendongkrak Liverpool.

Kota ini menyadari posisinya yang kuat di Northwest sebagai pelabuhan utama untuk perdagangan ke Amerika Utara. Di tahun 1980-an, Albert Dock, sebuah kompleks dermaga dan gudang dari tahun 1840-an, dipugar yang kemudian berubah fungsi menjadi kawasan hiburan. Kawasan ini dialihfungsikan menjadi bar, toko, dan restoran.

Albert Dock didesain oleh Jesse Hartley dan Philip Hardwick dan menjadi bangunan gudang pertama di dunia dengan sistem yang membuatnya tak mudah terbakar. Bangunan ini juga bangunan pertama di Inggris yang tak menggunakan unsur kayu, bahan yang digunakan adalah besi, batu bata, dan batu.

Sejak itu, Liverpool terus berupaya mempromosikan wisata kota tersebut melalui pusaka budaya sebagai daya tarik. Sejak periode 1980-an, kandang Liverpool Football Club (FC) ini membuka berbagai museum dan galeri. Sebut saja Merseyside Maritime Museum yang dibuka 1980, The Tate Gallery of Modern Art dibuka pada 1988. Lima tahun kemudian The Museum of Liverpool Life dibuka. Setahun kemudian menyusul pembukaan A Custom and Excise Museum. Tahun 1996 pusat konservasi pun dibuka.

Di abad 21, Liverpool membuka The National Wild Flower Centre, yaitu pada tahun 2001 dan tujuh tahun kemudian kota ini terpilih sebagai European Capital of Culture.

Contoh lain adalah Glasgow, sebuah kota industri yang berkembang di abad 19. Kota ini berjaya karena produksi besi dan pembangunan kapal yang mendominasi tepi Sungai Clyde (River Clyde). Memasuki tahun 1930-an, mulailah kontraksi ekonomi. Pada 1980-an Glasgow menjadi kota pengangguran, tak sehat, dan kota dengan citra negatif.

Kemudian kota ini segera tanggap dengan mendesentralisasi dan menciptakan perusahaan lokal di kawasan yang paling terpinggirkan dan pemerintah mendanai upaya tersebut. Usaha itu berbuah, pada 1986 ada 38.000 pengangguran, begitu masuk tahun 2003 angka tadi sudah menjadi 17.000. Glasgow juga sukses menggelar kegiatan yang menarik perhatian dan kemudian memasukkan sejumlah uang untuk kota itu sendiri.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
source: http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/03/11/0947129/jakarta.kota.kreatif.segera.dicanangkan
Published in: on March 16, 2010 at 9:01 am  Leave a Comment  

Nonton “Layar Tancap” di Fasade MSJ

KOMPAS.com – Berawal dari VJ (video jockey), yang tak lain adalah seniman pertunjukan dengan menciptakan seni gambar bergerak pada layar yang lebar, lahirlah sebuah seni yang memanfaatkan teknologi tinggi. Biasanya mereka tampil menyemarakkan konser, bar, klub malam, atau festival musik.

Keberadaan VJ mulai dikenal sekitar awal 1990-an setelah istilah DJ (disc jockey) yang lebih dulu beken.  Di abad millenium ini, VJ menghasilkan satu jenis turunan baru, video mapping. Video mapping mulai muncul pada Januari 2007 di Club Transmediale, dan boleh jadi itu adalah awal tren baru dari 3D (three dimension) video projection (VP) – proyeksi video tiga dimensi.

Proyeksi Video Tiga Dimensi sebenarnya adalah tentang detil arsitektur dengan permukaan yang unik. Aliran ini lebih menitikberatkan pada permainan cahaya dan bayangan pada gedung. Proyeksi video ini berkembang dari pertimbangan tentang bagaimana cahaya bisa diproyeksikan ke sebuah ruang seperti pada layar datar. Seperti menggambar pada sebuah gedung. Semua ini bisa dilakukan dengan teknologi, dengan perangkat lunak seperti fotoshop dan dengan eksperimen menggunakan model tiga dimensi.

Teknik aliran itu berkembang dari pembatasan pada cara menjadi VJ tradisional. Seni-lah yang mendorong perkembangan medium itu. Namun demikian, seni yang menggunakan teknologi canggih itu, jelas saja berbiaya mahal. Maka itu biasanya seni ini digunakan dalam dunia periklanan.

Sampai sekarang 3D VP menggunakan abstrak atau gambar yang menarik. Video projector juga dikenal dengan digital projector.  Demikian penuturan  Michael Faulkner, pendiri D-Fuse, sebuah perusahaan kreatif di London.

Di pertengahan 1990 D-Fuse dibentuk dan berisi sekumpulan seniman yang mengeskplor media kreatif dan berbasis di London.  D-Fuse mendorong penonton untuk merefleksikan proses terhadap pengalaman seni pada multidimensional, multi sensor, dengan penekanan pada suara dan citra. D-Fuse bekerjasama dengan bermacam pemusik, dari jenis elektronik sampai klasik.

Menurut data dari British Council, Faulkner menyebutkan,  proyek di Museum Sejarah Jakarta (MSJ) akan ditampilkan dalam konsep menggambar dalam elemen naratif. Perusahaan kreatif ini akan membuat Kota Tua Jakarta tampak beda, mengubah cara pandang warga terhadap Kota Tua dan gedung-gedung tua di sekitarnya, serta memberi arti baru pada apa yang disebut ruang publik, ruang bagi warga untuk berkreasi, memberi arti baru pada panggung, layar, dan kanvas.

Seperti sudah diberitakan, pada Sabtu 13 Maret malam, D Fuse akan menggetarkan Kota Tua dengan pertunjukan Video Mapping yang pertama kali di Indonesia. Pertunjukan itu juga sebagai tonggak peresmian “Jakarta Kota Kreatif” yang akan dicanangkan British Council bersama Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan KADIN Jakarta.

Dari tanggal 7 sampai 13 Maret, British Council bekerjasama dengan Pemerintah DKI dan KADIN Jakarta menggelar berbagai upaya penyadaran pada warga Jakarta tentang pentingnya ruang kreatif. Program ini berupaya menjawab tantangan pemerintah yang berencana merevitalisasi Kota Tua sebagai ruang bermain baru bagi pelaku industri kreatif.

Untuk Jakarta Creative City Project, D Fuse menciptakan  Video Mapping Projection yang akan diproyeksikan ke fasade gedung MSJ.

Pada proyek yang mengajak pemerintah dan warga Jakarta untuk memahami makna ruang, panggung,  dll, ini D-Fuse bekerjasama dengan pembuat film, Sakti Parantean (Fictionary Films), Adi Panuntun (Sembilan Matahari Films), fotografer  paruh waktu  di National Geographic Indonesia Feri Latief, dan penulis Taqarrabie.

Menurut Faulkner, 3D VP masih merupakan aliran awal. Jadi masih banyak waktu dan tempat untuk bereksperimen dalam pada bidang ini. Ia menambahkan, biaya untuk menggelar pertunjukan tersebut biasanya mulai 10.000 Poundsterling (sekitar Rp 137 juta dengan kurs  Rp 13.734).

Teknologi video mapping – pemetaan video — sebenarnya sederhana. Hanya saja peralatan pendukungnya yang tak murah. Beberapa komputer mengontrol efek video proyektor yang kemudian digunakan untuk memproyeksikan citra pada permukaan yang dikehendaki. Proyeksi dari permukaan itu kemudian dipetakan dalam komputer.

Kemudian kita bisa menetapkan titik-titik dari permukaan tesebut untuk disimpan ke dalam komputer sehingga kita mendapatkan beberapa pilihan peta. Peta ini bisa di dilapis dengan konten video, gambar diam, logo, branding dll untuk menciptakan permukaan yang interaktif. Permukaan apapun bisa dipetakan dan kemudian diproyeksikan.

Penasaran? Bergabung saja bersama kerumunan pengunjung lain d Kota Tua pada Sabtu 13 Maret sebelum pukul 19.00.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto 

source:  http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/03/12/12531299/Nonton.Layar.Tancap.di.Fasade.MSJ

Published in: on March 16, 2010 at 8:59 am  Leave a Comment  

Rebut Ruang Kreatifmu!

Kota Ghent di Belgia/Foto: Pradaningrum Mijarto

Akhir pekan ini, Sabtu (13/3), Gubernur DKI Jakarta bersama KADIN Jakarta, dan British Council akan mencanangkan “Jakarta Kota Kreatif” di Kota Tua. Pencanangan itu akan ditandai dengan pertunjukan spektakuler “Video Mapping” yang baru pertama kali digelar di Indonesia.

Penampilan seni proyeksi tiga dimensi menggunakan peralatan canggih itu juga dimaksudkan untuk memberi makna baru pada ruang, layar, dan juga panggung.

Intinya, menyadarkan khalayak bahwa menjadi kreatif itu penting dan menampilkan hasil karya itu tak harus di panggung konvensional yang selama ini kita kenal.

Industri kreatif sedang digalakkan oleh Departemen Perdagangan Indonesia dengan Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Upaya ini direncanakan untuk mendapatkan kontribusi perekonomian yang signikan.

Ekonomi kreatif mencakup berbagai industri kreatif. Industri kreatif adalah industri dengan kekuatan pada kreativitas, keahlian, dan talenta yang punya potensi mengembangkan kesejahteraan dan menciptakan lapangan kerja yang mengeksploitasi daya cipta.

Terminologi cultural industry atau industri budaya mengacu pada industri yang mengombinasikan kreasi, produksi, dan komersialisasi dari konten kreatif yang intangible (tak benda).

Kontennya, menurut United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisations (UNESCO), dilindungi oleh copyright. Yang termasuk dalam industri budaya antara lain, multimedia, percetakan, audiovisual, dan sinematografi, beserta kerajinan dan desain.

Sementara itu terminologi industri kreatif di dalamnya termasuk industri kreatif ditambah semua produksi artistik dan budaya. Industri kreatif juga memasukkan arsitektur dan periklanan sebagai aktivitas kreatif.

Menurut Project Manager Programme Team British Council, Yudhi Soerjoatmodjo, program ruang kreatif, membuka wawasan warga Jakarta tentang ruang kreatif, dan memperluas pemahaman terhadap apa yang disebut panggung, kanvas, atau layer.

“Intinya, media untuk berkreasi ada di sana (Kota Tua). Gedung-gedung tua di sana bisa jadi memikat jika saja pekerja kreatif bisa melihat panggung dan layar secara lebih luas.”

Selain bangunan tua, lanjutnya, Taman Fatahillah serta seluruh kawasan hingga ke Kalibesar bahkan Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Menara Syahbandar, bahkan Kampung Marunda bisa jadi ruang kreatif.

Menampilkan sebuah pementasan tak selalu harus di dalam gedung karena panggung tersedia di mana-mana, demikian pula dengan kanvas, dan layar.

Sejak 7 Maret hingga 13 Maret, puncaknya, British Council sudah menggelar rangkaian acara yang dibuka dengan acara Jelajah Lima Museum di Kota Tua bekerjasama dengan Komunitas Jelajah Budaya.

Kemudian pada 13 Maret, sejak pagi Kota Tua sudah diisi dengan workshop tentang ruang kreatif, mendatangkan pakar dari Inggris yang sudah berpengalaman menghidupkan kota tua mereka yang sempat terbengkalai.

Contoh sukses

Liverpool, Inggris, setelah Perang Dunia II dihadapkan pada tugas membenahi perumahan warga yang hancur kena bom. Lebih luas, membenahi kota yang sudah sejak tahun 1920-an morat-marit.

Tahun 1950-an dan 1960-an kota ini gencar membangun kembali pusat kota mereka dan perumahan warga dalam bentuk flat. Sebuah perubahan dari rumah di darat dengan teras menjadi rumah di gedung bertingkat.

Kota kelahiran band rock legendaris The Beatles ini kemudian juga mengubah batas wilayahnya pada 1974 sehingga kemudian masuk dalam kawasan administratif Merseyside.

Industri di Liverpool mengalami perkembangan dahsyat di antara tahun 1950-an dan 1960-an namun kemudian berubah di penghujung 1970 hingga 1980-an akibat resesi ekonomi. Alhasil, kota ini jadi kota pengangguran dengan tingkat masalah sosial yang tinggi. Buntutnya adalah kerusuhan di tahun 1981.

Waktu berlalu dan otoritas setempat juga tak diam melihat kehancuran kota tersebut. Menjelang berakhirnya abad 20, harapan mulai tumbuh. Industri gula, tepung, semen menjadi industry yang mendongkrak Liverpool.

Kota ini menyadari posisinya yang kuat di Northwest sebagai pelabuhan utama untuk perdagangan ke Amerika Utara. Di tahun 1980-an Albert Dock, sebuah kompleks dermaga dan gudang dari tahun 1840-an dipugar kemudian berubah fungsi menjadi kawasan hiburan.  Kawasan ini dialihfungsikan menjadi bar, toko, dan restoran.

Albert Dock, didesain oleh Jesse Hartley dan Philip Hardwick dan menjadi bangunan gudang pertama di dunia dengan sistem yang membuatnya tak mudah terbakar. Bangunan ini juga bangunan pertama di Inggris yang tak menggunakan unsur kayu, bahan yang digunakan adalah besi, batu bata, dan batu.

Sejak itu, Liverpool terus berupaya mempromosikan wisata kota tersebut melalui pusaka budaya sebagai daya tarik. Sejak periode 1980-an, kandang Liverpool Football Club (FC) ini membuka berbagai museum dan galeri.

Sebut saja Merseyside Maritime Museum yang dibuka 1980, The Tate Gallery of Modern Art dibuka pada 1988. Lima tahun kemudian The Museum of Liverpool Life dibuka. Setahun kemudian menyusul pembukaan A Custom and Excise Museum. Tahun 1996 pusat konservasi pun dibuka.

Di abad 21, Liverpool membuka The National Wild Flower Centre yaitu pada tahun 2001 dan tujuh tahun kemudian kota ini terpilih sebagai European Capital of Culture.

Contoh lain adalah Glasgow, sebuah kota industi yang berkembang di abad 19. Kota ini berjaya karena produksi besi dan pembangunan kapal yang mendominasi tepi Sungai Clyde (River Clyde). Memasuki tahun 1930-an, mulailah kontraksi ekonomi. Pada 1980-an Glasgow menjadi kota pengangguran, tak sehat dan kota dengan citra negatif.

Kemudian kota ini segera tanggap dengan mendesentralisasi dan menciptakan perusahaan lokal di kawasan yang paling terpinggirkan dan pemerintah mendanai upaya tersebut.

Usaha itu berbuah, pada 1986 ada 38.000 pengangguran begitu masuk tahun 2003 angka tadi sudah menjadi 17.000. Glasgow juga sukses menggelar kegiatan yang menarik perhatian dan kemudian memasukkan sejumlah uang untuk kota itu sendiri. (Pradaningrum Mijarto)

source: http://wartakota.co.id/detil/berita/22756/Rebut-Ruang-Kreatifmu

Published in: on March 16, 2010 at 8:56 am  Leave a Comment  

Video Mapping, Membuat Museum Fatahillah Jadi Hidup

Rabu, 10 Maret 2010 | 14:38 WIB

Sebuah peristiwa spektakuler akan terjadi di Jakarta pada 13 Maret ini. Namanya Video Mapping, yang akan “menghidupkan” Museum Sejarah Jakarta, atau lebih ngetop dengan nama Museum Fatahilah.

Bukan sulap bukan sihir, gedung museum bekas kantor gubernur zaman VOC itu akan menjadi layar 3 dimensi sebuah pemutaran film 3 dimensi yang berbeda dari film 3 dimensi di bioskop. Jadi sayang banget kalau sampai kelewatan event ini.

Artis yang membuat Video Mapping ini jauh-jauh datang dari London, Inggris, dan sudah sangat ngetop di negaranya Ratu Elizabeth itu dengan karya-karya seni instalasi yang menggunakan multimedia. Mereka adalah D-Fuse, sekelompok artis yang berbasis di London, dan mengeksplorasi seni intalasi dengan menggunakan berbagai media. Oh ya, artis di sini artinya adalah seniman ya, dari kata bahasa Inggris artist, bukannya artis yang dari kata actor dan actress.

D-Fuse didirikan oleh Michael Faulkner, seorang sutradara seni instalasi yang piawai. Faulkner sendiri yang akan hadir di Indonesia untuk menunjukkan betapa hebatnya dia dalam membuat film 3 D yang lain daripada yang lain itu. Michael didampingi rekannya, seorang artis video (video jockey/VJ) yang memiliki kemampuan DJ, yakni Matthias Kispert.

Mereka berdua akan menyuguhkan tontonan yang membuat mulut ternganga, karena tontonan seperti ini tergolong baru banget di Jakarta. Dengan sentuhan ilusi optikal ditambah kemampuan fisika dan matematika yang kreatif, dan tentu saja imajinasi liar, mereka ingin mengajak penonton turut merasakan seni secara-multi dimensi dan multi-rasa dengan penekanan pada kertautan suara dan gambar. Singkat kata, Video Mapping yang akan ditampilkan luar biasa.

Jangan kaget jika tiba-tiba Museum Fatahillah itu menjadi hidup, atau tiba-tiba lenyap dari depan mata, digantikan rawa-rawa tahun 1596. Metode teknisnya sih nggak jauh beda dari yang digunakan David Copperfield menghilangkan Menara Eiffel. Efek tata suaranya juga bakalan hip secara Kispert mempunyai latar belakang seorang DJ. Pokoknya seru abis.

Artis Indonesia

Faulkner dan Kispert tak lupa menggandeng artis Indonesia, yakni Sakti Parentean, sutradara yang sarjana ekonomi dari Curtin University, Australia, yang gencar memupuk tumbuhnya industri kreatif Tanah Air. Nama Sakti sudah kondang di industri film manca negara.

Artis lainnya adalah Adi panuntun, juga anak muda kreatif yang namanya sudah dikenal di luar negeri. Sarjana lulusan Institut Teknologi Bandung itu yang menggagas ITB TV.

Kemudian ada Ferry Latif, satu dari sedikit fotografer Indonesia yang karyanya nongol di majalah National Geographic terbitan Amerika.

Untuk membuat film tersebut, para artis harus mengukur secara cermat panjang, lebar, dan tinggi bangunan Stadhuijs tersebut, sehingga film yang terproyksikan di bidang yang tepat. Untuk menayangkan film ini uga dibutuhkan tiga proyektor yang mempunyai pancaran sinar sampai 15.000 lumens (satuan cahaya). Proyektor-proyektor itu tadinya nggak ada di Indonesia, tapi untuk acara ini spesial diimpor.

Kota kreatif

Tontonan menarik ini diselenggarakan oleh British Council Indonesia dalam rangka menumbuhkan industri kreatif di Jakarta. Industri kreatif sendiri tidak akan muncul jika masyarakat sebuah kota tak kreatif. Masyarakat yang kreatif juga tak akan terbentuk jika tak ada lagi ruang bagi penduduk untuk menyalurkan ide kreatifnya.

Masalahnya, sekarang di Jakarta mulai lenyap ruang-ruang publik yang bisa menumbuhkan ide kreatif masyarakatnya. Sebagian besar ruang publik yang gratis atau murah itu sudah berubah menjadi ruang komersil yang tak bisa diakses sebagian besar masyarakat.

Adalah Charles Landry, lewat buku The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators, memperkenalkan Gerakan kota kreatif (creative city) pada tahun 2000. Landry mengatakan, creative city adalah sebuah tempat di mana orang merasakan, bahwa mereka bisa berpikir bertindak, berencana dengan imajinasi.

Lebih lanjut Landry menjelaskan, sebuah kota yang kreatif bisa dilihat dari kesan pertama saat kita singgah. Misalnya keramahtamahannya. Keramahtamahan transportasi, khususnya. “Bagaiman sebuah kota seperti mengundang kita, untuk masuk lebih dalam, melalui bandara, pelabuhan, stasiun kereta api mereka.” Kota kreatif juga berisi orang yang punya kombinasi pengetahuan begitu mendalam tentang kotanya, industrinya, seni budaya, bisnisnya dan yang secara bersamaan juga terbuka terhadap sebuah toleransi, punya kapasitas untuk mendengarkan. “Kota kreatif adalah juga tentang personality quality, di mana ada banyak orang dengan kualitas yang berbeda tadi, diizinkan untuk mengembangkan diri,” tandas Landry.

Gerakan kota kreatif pun ditangkap oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) -Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa. Organisasi itu kemudian membentuk apa yang disebut Jaringan Kota-kota Kreatif -JKK-(The Creative Cities Network) pada 2004. Tujuannya tak lain adalah mempertahankan keberagaman budaya di mana kota-kota di dunia bisa saling bertukar pengalaman dalam upaya mempromosikan pusaka budaya lokal mereka masing-masing termasuk bagaimana menghadapi arus globalisasi. (ink/pra)

source: http://wartakota.co.id/detil/berita/22753/Video-Mapping-Membuat-Museum-Fatahillah-Jadi-Hidup

Nantikan program ‘Kota Kreatif Jakarta Punya!: Menyulap Taman Fatahillah’  di Museum Sejarah Fatahillah pada tanggal 13 Maret 2010, program ini didukung oleh British Council, Warta Kota, Pemprov DKI dan Kadin Jakarta.

Published in: on March 16, 2010 at 8:53 am  Leave a Comment  

Kota Kreatif Jakarta Punya

13 March 2010

kotatuaSabtu malam ini mudah-mudahan benar menjadi tonggak dibenahinya Kotatua (entah kenapa ya ejaannya disambung) Jakarta agar menjadi andalan wisata kota Jakarta. Di Indonesia tidak banyak lokasi heritage seperti ini, yang masih terkumpul dalam satu lokasi kalau nggak salah hanya Jakarta, Bandung, dan Semarang. Sayangnya, perhatiannya dari dulu setengah-setengah. Perbaikan pedestrian, penataan Kali Besar, pemugaran bangunan bersejarah, antara iya dan tidak.

Harapannya apa yang diucapkan Gubernur Jakarta malam ini bukan sekedar lip service. Kota Jakarta butuh heritage yang bisa dibanggakan ke wisatawan luar. Sesuatu yang membuat warganya pun ikut bangga dan merasa ikut memiliki. Memang sih perubahan fungsi Taman Fatahillah sebagai ruang publik sudah cukup lama terasa. Kalau dulu tidak ada aktivitas, sekarang kalau datang ke sana pada hari sabtu dan minggu, selalu terlihat ramai. Dari sekedar pelancong, hingga beragam kegiatan kreatif bermunculan. Nggak jarang ada klub drama atau fotografi yang memanfaatkan Taman Fatahillah untuk ajang berkreasinya. Meski sayangnya, masih suka terlihat sampah di sana sini. Kebiasaan orang kita untuk tidak asal membuang sampah sepertinya susah banget ya hilangnya.

Malam ini juga disajikan pertunjukan video mapping di fasade Museum Fatahillah. Tiga proyektor yang tersinkronsisasi menembakkan tampilannya ke fasade. Sebelumnya sudah dilakukan mapping sehingga gambar yang ditampilkan akan mengikuti lekukan pintu, jendela dan beragam bentukan tampak depan Museum Fatahillah. Videonya sendiri bercerita tentang perjalanan kotatua Jakarta. Saat 13 Maret 1213 kota ini hanya memiliki luas 350 m2, 1 mal, dan 840 penduduk, hingga saat ini 13 Maret 2010 kota ini sudah melebar hingga 66.152.000 m2, 130 mal, dan 8.523.000 penduduk. Video juga bercerita tentang ikhtiar membuat kota Jakarta menjadi kota yang sarat dengan ruang kreatif. Runtutan gambar video bisa dilihat di salindia berikut ini.

Lalu, selanjutnya sebagai orang yang merasa dirinya kreatif, apa yang perlu kita lakukan untuk membuat ruang-ruang publik di Jakarta ini menjadi lebih nyaman dan memicu kreativitas? Haha, jangan sampai kalah ah dengan kota Bandung dan Jogja. :D

source: http://media-ide.bajingloncat.com/2010/03/13/kota-kreatif-jakarta-punya/

Published in: on March 16, 2010 at 8:50 am  Leave a Comment  

Agenda Acara KOTA KREATIF JAKARTA PUNYA!*

Sabtu, 13 Maret, 08.00 – 12.00 WIB
Ruang Etnografi – Museum Sejarah Jakarta

WORKSHOP 1: “Creative Programme Development and Management of Creative
Spaces”*

Pembicara:
Caroline Norbury (Chief Executive – South West Screen)
Derrick Price (Chairman – Watershed Media Centre)
Aurora Tambunan (Deputy Gubernur Pariwisata & Kebudayaan)
Pradaningrum Mijarto (Wisata Kota Tua)/ Asep Kambali (Komunitas Historia)
Adi Panuntun (Direktur – Sembilan Matahari Films)
Darmawan Handonowarih/ Mahandis Yoanata/ Marco Kusumawijaya/ Suryono
Herlambang (…..,
moderator)

*13.00 – 17.00 WIB
WORKSHOP 2: “How Filmmakers and Creative Talents Reinforce City Spaces
Transformation”*

Pembicara:
Caroline Norbury (Chief Executive – South West Screen)
Derrick Price (Chairman – Watershed Media Centre)
Matthias Kispert (Composer – F-Fuse)
Sakti Parantean (Director – Fictionary Films)
Garin Nugroho (Sineas – Yayasan SET, moderator)

*09.00 – 17.00 WIB
Ruang Audio Visual – Museum Wayang
PEMUTARAN FILM*

Endless Cities (D-Fuse, Onedotzero, British Council) dengan pertunjukan
musik khusus dari Matthias Kispert/DFuse
unkl347 (Dandy)
The A1 Corridor (Squint/Opera)
Page 2 of 2
Picture a City (Squint/Opera)
Pork or Chicken (Sakti Parantean)
Of Time and the City (Terence Davies)

*17.00 – 18.00 WIB
Ruang Etnografi – Museum Sejarah Jakarta
KONPERENSI PERS*

Narasumber:
Michael Faulkner (Direktur Kreatif – D-Fuse)
Adi Panuntun (Direktur – Sembilan Matahari Films) / Sakti Parantean
(Direktur – Fictionary Films)
Aurora Tambunan (Asisten Deputi Gubernur DKI of Jakarta)
Keith Davies (Direktur – British Council)

*16.00 – 18.00 WIB
Aula – Museum Seni Rupa dan Keramik
REUNI ALUMNI CHEVENING*

*Taman Fatahillah
ACARA UTAMA
18.00 – 19.00
Pertunjukan Marching Band & Fire dance*

*18.30 – 21.30
Pameran dan pengumuman pemenang kompetisi fotografi Kompas.Com*

*19.00 – 21.30
Pertunjukan musik Duo Percussion dan 4 Peniti*

*19.45 – 20.05
Peresmian acara Kota Kreatif Jakarta Punya! oleh Gubernur DKI Jakarta, DR.
Ing. H. Fauzi Bowo

20.05 – 20.15 & 21.00 – 21.10
Pertunjukan Video Mapping Projection karya kolaborasi D-Fuse (UK), Sakti
Parantean (Fictionary Films), Adi
Panuntut (Sembilan Matahari Films), Feri Latief, dan Taqarrabie

20.15 – 20.30
Di Balik Layar Pembuatan Video Mapping Projection, menampilkan:*
Michael Faulkner (Direktur Kreatif – D-Fuse)
Matthias Kispert (Komposer – D-Fuse)
Adi Panuntun (Direktur – Sembilan Matahari Films)
Sakti Parantean (Direktur – Fictionary Films)
Feri Latief (Fotografer)
Aurora Tambunan (Deputy Gubernur Pariwisata & Kebudayaan

Untuk informasi, hubungi:

Nelda Afriany

nelda.afri@britishcouncil.or.id mobile. 0813-8141-1951

Published in: on March 11, 2010 at 6:32 am  Leave a Comment  

e-invitation Transformasi KotaTua Video Mapping Pertama di Indonesia!

yuk dateng! :)

transformasi kota tua ind

transformasi kota tua eng

Published in: on March 9, 2010 at 3:21 pm  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.