KOMPAS.com – Berawal dari VJ (video jockey), yang tak lain adalah seniman pertunjukan dengan menciptakan seni gambar bergerak pada layar yang lebar, lahirlah sebuah seni yang memanfaatkan teknologi tinggi. Biasanya mereka tampil menyemarakkan konser, bar, klub malam, atau festival musik.
Keberadaan VJ mulai dikenal sekitar awal 1990-an setelah istilah DJ (disc jockey) yang lebih dulu beken. Di abad millenium ini, VJ menghasilkan satu jenis turunan baru, video mapping. Video mapping mulai muncul pada Januari 2007 di Club Transmediale, dan boleh jadi itu adalah awal tren baru dari 3D (three dimension) video projection (VP) – proyeksi video tiga dimensi.
Proyeksi Video Tiga Dimensi sebenarnya adalah tentang detil arsitektur dengan permukaan yang unik. Aliran ini lebih menitikberatkan pada permainan cahaya dan bayangan pada gedung. Proyeksi video ini berkembang dari pertimbangan tentang bagaimana cahaya bisa diproyeksikan ke sebuah ruang seperti pada layar datar. Seperti menggambar pada sebuah gedung. Semua ini bisa dilakukan dengan teknologi, dengan perangkat lunak seperti fotoshop dan dengan eksperimen menggunakan model tiga dimensi.
Teknik aliran itu berkembang dari pembatasan pada cara menjadi VJ tradisional. Seni-lah yang mendorong perkembangan medium itu. Namun demikian, seni yang menggunakan teknologi canggih itu, jelas saja berbiaya mahal. Maka itu biasanya seni ini digunakan dalam dunia periklanan.
Sampai sekarang 3D VP menggunakan abstrak atau gambar yang menarik. Video projector juga dikenal dengan digital projector. Demikian penuturan Michael Faulkner, pendiri D-Fuse, sebuah perusahaan kreatif di London.
Di pertengahan 1990 D-Fuse dibentuk dan berisi sekumpulan seniman yang mengeskplor media kreatif dan berbasis di London. D-Fuse mendorong penonton untuk merefleksikan proses terhadap pengalaman seni pada multidimensional, multi sensor, dengan penekanan pada suara dan citra. D-Fuse bekerjasama dengan bermacam pemusik, dari jenis elektronik sampai klasik.
Menurut data dari British Council, Faulkner menyebutkan, proyek di Museum Sejarah Jakarta (MSJ) akan ditampilkan dalam konsep menggambar dalam elemen naratif. Perusahaan kreatif ini akan membuat Kota Tua Jakarta tampak beda, mengubah cara pandang warga terhadap Kota Tua dan gedung-gedung tua di sekitarnya, serta memberi arti baru pada apa yang disebut ruang publik, ruang bagi warga untuk berkreasi, memberi arti baru pada panggung, layar, dan kanvas.
Seperti sudah diberitakan, pada Sabtu 13 Maret malam, D Fuse akan menggetarkan Kota Tua dengan pertunjukan Video Mapping yang pertama kali di Indonesia. Pertunjukan itu juga sebagai tonggak peresmian “Jakarta Kota Kreatif” yang akan dicanangkan British Council bersama Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan KADIN Jakarta.
Dari tanggal 7 sampai 13 Maret, British Council bekerjasama dengan Pemerintah DKI dan KADIN Jakarta menggelar berbagai upaya penyadaran pada warga Jakarta tentang pentingnya ruang kreatif. Program ini berupaya menjawab tantangan pemerintah yang berencana merevitalisasi Kota Tua sebagai ruang bermain baru bagi pelaku industri kreatif.
Untuk Jakarta Creative City Project, D Fuse menciptakan Video Mapping Projection yang akan diproyeksikan ke fasade gedung MSJ.
Pada proyek yang mengajak pemerintah dan warga Jakarta untuk memahami makna ruang, panggung, dll, ini D-Fuse bekerjasama dengan pembuat film, Sakti Parantean (Fictionary Films), Adi Panuntun (Sembilan Matahari Films), fotografer paruh waktu di National Geographic Indonesia Feri Latief, dan penulis Taqarrabie.
Menurut Faulkner, 3D VP masih merupakan aliran awal. Jadi masih banyak waktu dan tempat untuk bereksperimen dalam pada bidang ini. Ia menambahkan, biaya untuk menggelar pertunjukan tersebut biasanya mulai 10.000 Poundsterling (sekitar Rp 137 juta dengan kurs Rp 13.734).
Teknologi video mapping – pemetaan video — sebenarnya sederhana. Hanya saja peralatan pendukungnya yang tak murah. Beberapa komputer mengontrol efek video proyektor yang kemudian digunakan untuk memproyeksikan citra pada permukaan yang dikehendaki. Proyeksi dari permukaan itu kemudian dipetakan dalam komputer.
Kemudian kita bisa menetapkan titik-titik dari permukaan tesebut untuk disimpan ke dalam komputer sehingga kita mendapatkan beberapa pilihan peta. Peta ini bisa di dilapis dengan konten video, gambar diam, logo, branding dll untuk menciptakan permukaan yang interaktif. Permukaan apapun bisa dipetakan dan kemudian diproyeksikan.
Penasaran? Bergabung saja bersama kerumunan pengunjung lain d Kota Tua pada Sabtu 13 Maret sebelum pukul 19.00.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
source: http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/03/12/12531299/Nonton.Layar.Tancap.di.Fasade.MSJ